Assalamu'alaikum... Welcome in My Site!

Friday, 26 August 2011

Here I am... (SMAN 1 Blitar)

Share/Bookmark
Akhirnya, setelah lamaaaaa sekali vakum dari blogku tercinta ini, AKU KEMBALI!!! Kalau dihitung-hitung, udah berapa abad ya aku gak nulis? Hehehe... Whatsoever lah, who counts away! Yang jelas, setelah beribet-ribet dengan UN SMP tempo lalu, ujian SBI, cari sekolah dan... jreng-jreng! HERE I AM!



Alhamdulillah, berkat rahmat Allah, doa ibuk bapakku, dan support orang-orag di sekelilingku aku bisa di terima di SMA 1 Blitar. Sekolah yang memang dari kecil sudah aku idam-idamkan. Dan, syukurku makin mengalir ketika diumumkan bahwa aku berhasil lolos masuk ke kelas olimpiade. Rasa syukur, bahagia, haru, dan bangga berkumpul menjadi satu. Mahasuci Allah!

Tadinya, sama sekali aku gak membayangkan bisa masuk SMAN 1 Blitar, apalagi kelas olimpiade. Mengingat saingan yang jumlahnya bejibun dan diskriminasi yang ketat pada anak kabupaten (kebetulan aku berdomisili di kabupaten) yang kepengen sekolah di kota. Jadi ya, aku mencari celah dengan cara daftar ke sma yang lain yang domisilinya kabupaten juga.

Dengan kebesaran Allah, aku bisa masuk di sini. Awalnya, aku agak ragu apakah aku bisa bertahan di tengah persaingan yang ketat di lingkup kelas. Satu kelas dengan anak-anak pilihan se-Blitar (luar Blitar juga ada) yang super pinter, super rajin, dan super-super yang lain, adalah hal yang gak mudah. 33 anak (sebenarnya 36) makin bikin nyaliku ciut.

Makin lama bersama mereka, aku merasakan suatu hal lain yang membuat hatiku belajar:
Hidup memang merupakan suatu persaingan, tergantung dari sudut mana kita memandang. Jangan berambisi, tapi bercita-citalah. Karena, jika ambisi akan semakin membuat kita terpuruk dan sakit jika hal itu tidak tercapai.
Berkaca dari itu, sekarang aku tidak takut lagi berdiri di antara teman-temanku. Perkara siapa yang lebih cemerlang, urusan nanti. Yang penting sekarang adalah: tholabul 'ilmi :)

Here I am... SMAN 1 Blitar, pijakanku ke masa depan!


Friday, 17 December 2010

Bacalah...

Share/Bookmark
hati ini bagaikan selembar kertas
kertas dengan coretan-coretan kata untukmu
segala harap dan keinginanku
kepadamu

hati ini bagaikan selembar kertas
yang teramat rentan untuk dibiarkan
dibiarkan untuk terbang dan melayang-layang
tanpa berhenti untuk hinggap

hati ini bagaikan selembar kertas
amat putih untuk tercemar tinta sembarangan
bukannya ku ingin berlama-lama
namun hatiku ini, ingin jadi milikmu

hati ini bagaikan selembar kertas
yang penuh dengan berjuta-juta bait puisi
untukmu...

hati ini bagaikan selembar kertas
yang entah akan kau simpan
atau kau buang bersama tiupan angin...

akankah kau membacanya?

Sunday, 21 November 2010

Surat

Share/Bookmark
Surat ini kutujukan kepada diriku sendiri serta sahabat-sahabatku yang insyaAllah tetap mencintai Allah dan RasulNya di atas segalanya, cinta hakiki yang membuat manusia melihat segalanya dari sudut pandang yang berbeda, lebih bermakna dan indah.

Surat ini kutujukan untuk hatiku dan hati sahabat-sahabat tercintaku yang kerap kali terisi oleh cinta selain dariNya, yang mudah sekali terlena oleh indahnya dunia, yang terkadang melakukan segalanya bukan karenaNya, lalu di ruang hatinya yang kelam merasa senang jika dilihat dan dipuji orang, entah di mana keikhlasannya. Maka saat merasakan kekecewaan dan kelelahan karena perkara yang dilakukan tidak sepenuhnya berlandaskan keikhlasan, padahal Allah tidak pernah menanyakan hasil. Dia akan melihat kesungguhan hambaNya dalam berproses.

Surat ini kutujukan pula untuk jiwaku serta jiwa sahabat-sahabat tercintaku yang mulai lelah menapaki jalanNya ketika seringkali mengeluh, merasa dibebani bahkan terpaksa untuk menjalankan tugas yang sangat mulia. Padahal tiada kesakitan, kelelahan, serta kepayahan yang dirasakan oleh seorang hamba melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosanya.

Surat ini kutujukan untuk roh-ku dan roh sahabat-sahabat tercintaku yang mulai terkikis oleh dunia yang menipu, serta membiarkan fitrahnya tertutup oleh maksiat yang dinikmati, lalu di manakah kejujuran diletakkan? Dan kini terabailah sudah nurani yang bersih, saat ibadah hanyalah sebagai rutinitas belaka, saat jasmani dan fikiran disibukkan oleh dunia, saat wajah menampakkan kebahagiaan yang penuh kepalsuan. Coba lihat disana! Hatimu menangis meranakah?

Padahal kita menyadari bahwa tiap-tiap jiwa akan merasakan mati, namun kita masih terus bergelut dengan kefanaan. Surat ini kutujukan untuk hatiku dan hati sahabat-sahabat tercintaku yang mulai mati, saat tiada getar ketika asma Allah disebut, saat tiada sesal ketika kebaikan berlalu begitu saja, saat tiada rasa takut padaNya ketika maksiat dilakukan, dan tiada merasa berdosa ketika menzhalimi diri sendiri dan orang lain.

Akhirnya surat ini kutujukan untuk jiwa yang masih memiliki cahaya meskipun sedikit, jangan biarkan cahaya itu padam. Maka terus kumpulkan cahaya itu hingga ia dapat menerangi wajah-wajah di sekeliling, memberikan keindahan Islam yang sesungguhnya hanya dengan kekuatan darinya.

Engkaulah Bidadari

Share/Bookmark
Engkaulah Bidadari
oleh: Rachma Al-Humaira

Engkaulah sang bidadari... 
Bidadari yang turun dari surgawi 
Bagaimana tidak, ya Ukhti? 
Ketika yang lain sibuk untuk bersolek diri 
Engkau tetap berhijab dan zuhud dari hal duniawi 
Karena selalu engkau yakini 
Hati, adalah simbol kecantikan sejati... 
Meski wajah tanpa gincu, bedak dan pemerah pipi 
InsyaALLAH tetap berseri-seri (hehehe) 

Engkaulah sang bidadari... 
Bagaimana tidak, ya Ukhti? 
Ketika yang lain asyik bermain 'api' 
Engkau tetap teguh menjaga diri 
Waspada melangkah agar tak terkena penyakit hati 

Engkaulah sang bidadari... 
Bagaimana tidak, ya Ukhti? 
Ketika yang lain sedang terlelap dalam mimpi 
Engkau rela bangun dan mensucikan diri 
Dalam pekatnya sang malam engkau menyepi 
Dengan sepenuh hati menghadap kepada Illahi 
Berharap untuk selamat di dunia dan di akhirat nanti 

Engkaulah sang bidadari... 
Beban yang dipundakmu amatlah berat dari hari ke hari 
Mengemban amanah dan dakwah untuk umat dan diri sendiri 
Seiring langkahmu yang tanpa henti 
Dengan senyummu engkau sejukkan dunia ini 

Engkaulah sang bidadari, ya Ukhti!


Sunday, 2 May 2010

Dag Dig Dug Syuur

Share/Bookmark


Oke. OSN telah terlampaui. Bagi para bloggermania yang kebetulan masih SMP – dan kebetulan bisa berkesempatan untuk mengikuti OSN – tentunya merasa sangat lega sekaligus H2C (harap-harap cemas), hehehe.

Saya merasa amat sangat percaya diri. Bagaimana tidak? Kami sudah menjalani berbagai pembinaan dan pelatihan. Mulai dibina di sekolah masing-masing, di Univ. Malang dan di Univ. Brawijaya (khusus untuk di Univ. Brawijaya hanya untuk siswa SMP Negeri 1 Kesamben dan SMP Negeri 1 Blitar). Maka dari itu, saya selalu berusaha semaksimal mungkin.

Pada saat proses pembinaan di Univ. Brawijaya, saya sempat kebingungan (nggak juga sih, hehe). Pada jadwal, kami tidak dibina tentang materi kelistrikan yang padahal banyaknya seabrek-abrek. Kami malah diberi materi IPBA (Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa) yang justru tebalnya sekarung goni. Padahal, dari pengalaman soal-soal tahun kemarin dan kisi-kisi soal OSN, soal tentang IPBA hanya muncul dalam presentasi yang sangat kecil. Maka dari itu, saya dan Lidya P. dari SMP 1 Blitar (ciye) mengusulkan untuk mengganti jadwal IPBA dengan listrik dan magnet, yang akhirnya disetujui. Dan ternyata, materi IPBA hanya muncul 1 soal. Ckckckck. Benar-benar tepat sasaran! Mestakung!

Ketika memasuki ruangan, seperti biasanya saya langsung mengadakan adaptasi dengan cara duduk senyaman mungkin. Kebetulan, untuk daerah Kabupaten Blitar, OSN diselenggarakan di SMP Negeri 1 Kanigoro. Dengan semua keadaan yang seperti itu, toh itu tidak mengurangi semangatku untuk berkompetisi.
Hehe, untuk pengumuman dan nilai, tunggu kabar selanjutnya ya.


Salam Blogging

Thursday, 22 April 2010

Kata Kan Kudai

Share/Bookmark
Kanku dapat diterjemahkan sebagai melihat langit, atau menatap langit. Nama kata ini diambil dari gerakan pembukanya yang mengarahkan kedua tangan ke langit. Saat ini Kanku Dai sebagai salah satu kata wajib (shittei kata) Shotokan sesudah Jion.

Kanku adalah kata yang sangat tua sekaligus kata dengan banyak versi. Kata ini juga mempunyai sejarah yang unik. Menurut legenda, nama Kanku diambil dari nama atase militer Cina bernama Kung Shiang Chung (dalam lafal Okinawa disebut dengan Ku Shan Ku) yang datang ke Okinawa.

Ketika Funakoshi datang ke Jepang dia menghilangkan tiga huruf kanji Kung Shiang Chung tetapi mengucapkannya dalam lafal Jepang ko Sho Kun untuk menghilangkan kesan budaya Okinawa dan selanjutnya dapat diterima dalam budaya Jepang.

Ku Shan Ku yang selanjutnya dalam Shotokan disebut Kanku Dai. Kata dengan gerakan yang panjang ini adalah kata favorit dari Gichin Funakoshi. Dipilihnya Kanku Dai untuk demonstrasi bagi orang-orang Jepang di Butokukai tahun 1922. Sebagai hasilnya Makoto Gima pendiri Judo sangat tertarik dengan demonstrasi itu dan selanjutnya meminta Funakoshi menetap di Jepang dan mengajarinya teknik-teknik dasar.

Tahukah Anda ternyata untuk belajar Kanku Dai ada beberapa kata wajib yang harus Anda pelajari dulu ? Untuk belajar kata ini seorang karateka setidaknya sudah menguasai seluruh kata Heian (Heian 1 – 5), Tekki Shodan dan Bassai Dai. Dalam Kanku Dai ada begitu banyak variasi teknik mulai dari gerakan peregangan, mengerut, cepat, lambat dan bahkan gerakan merunduk. Kanku Dai dikerjakan seolah-olah menghadapi lawan dalam jumlah yang banyak.

Selain Shotokan, aliran-aliran karate di Jepang juga memasukkan kata yang populer ini dalam kurikulum mereka. Namun dengan nama dan variasi gerakan yang sedikit berbeda pula. Shito Ryu menyebut kata ini dengan Ko Sho kun, Goju Ryu dan Wado Ryu menyebut dengan Ku Shan Ku, sementara Kyokushinkai menyebut dengan Kanku. 

Barangkali yang membedakan antara versi Shotokan dengan yang lain adalah adanya teknik lompatan sebelum akhir kata ini.
Sebagai pasangan dari Kanku Dai dalam versi Shotokan ada pula Kanku Sho. Kata ini termasuk jenis kata pilihan.

Karate Sebagai Seni Bela Diri

Share/Bookmark
Seni beladiri karate merupakan suatu bentuk beladiri yang mengandalkan tangan kosong. Lahirnya karate sebagai seni beladiri diketahui pada abad ke-19.
Adalah Matsumara Shukon (1797-1896) dari seorang prajurit samurai dan pelindung Raja Soko Okinawa-yang berjasa melahirkan seni beladiri karate. Ia menciptakannya dengan menggabungkan unsur seni militer Jepang (bushido).

Pemahaman terhadap karate digambarkan pula sebagai seni perang atau metode beladiri yang meliputi bermacam-macam teknik, termasuk bertahan, menyerang, mengelak, bahkan merobohkan. Latihan karate dapat dibagi menjadi tiga aspek : kihon (dasar), kata (bentuk), dan kumite (lakuan).

Kata karate merupakan kombinasi dari dua karakter (kata) Jepang: kara berarti kosong dan te yang berarti tangan. Maka karate dapat diartikan dengan tangan kosong. Ditambah sufiks (akhiran)-do (baca : doe), berarti cara.
Jadi, karate-do menerapkan karate sebagai cara hidup yang lebih dari sekedar mempertahankan diri.
Dalam karate-do tradisional, kita selalu diingatkan : musuh utama adalah diri kita sendiri.
Funakoshi mengatakan, Pikiran dan teknik menjadi satu dalam karate.

Kita berusaha membuat teknik fisik kita sebagai ekspresi dari apa yang diinginkan pikiran kita, pun meningkatkan pemusatan pikiran kita dengan memahami inti dari teknik fisik. Dengan menyempurnakan gerakan karate, kita juga menyempurnakan jiwa dan mental.

Sebagai contoh, meniadakan gerakan dalam gerakan karate yang lemah dan ragu-ragu dapat membantu menghilangkan kelemahan dan keragu-raguan berpikir, begitu pula sebaliknya. Dengan makna itu, karate menjadi suatu cara hidup, dimana kita mencoba untuk menjadi orang yang kuat, tapi bahagia dan penuh kedamaian. Seperti yang dimaksud Tsutomu Ohshima, Kepala Instruktur (Shihan) Shotokan Karate America (SKA), Kita harus cukup kuat mengekspresikan pikiran kita terhadap lawan, kapan saja, dimana saja. Tapi, kita harus tenang mengekspresikan diri kita secara rendah hati.

Ada salah satu bentuk latihan karate yang unik. Latihan itu dinamakan latihan khusus, yaitu satu seri dari latihan karate dimana kita mencoba untuk menghadapi diri kita sendiri dan menyempurnakan mental dan jiwa kita.

Filosofi Karate
1. Karate diawali dengan pemberian hormat dan diakhiri dengan pemberian hormat pula.
2. Tak ada serangan pertama pada karate.
3. Karate merupakan alat pembantu dalam keadilan.
4. Pertama-tama, kontrol dirimu sebelum mengontrol orang lain.
5. Semangat yang utama, teknik kemudian.
6. Senantiasa siap untuk membebaskan pikiranmu.
7. Kecelekaan timbul lantara kecerobohan.
8. Janganlah berpikir bahwa latihan karate cuma bisa di dojo.
9. Mempelajari karate memerlukan waktu seumur hidup dan tak punya batasan.
10. Masukkan karate dalam keseharianmu, maka kamu akan menemukan Myo (rahasia yang tersembunyi).
11. Karate seperti air yang mendidih. Jika kamu tak memanaskannya secara teratur, ia akan menjadi dingin.
12. Janganlah kamu berpikir kamu harus menang, tapi berpikirlah bahwa kamu tidak boleh kalah.
13. Kemenangan tergantung pada keahlianmu membedakan titik-titik yang mudah diserang dan yang tidak.
14. Pertarungan didasari oleh bagaimana kamu bergerak secara hati-hati dan tidak (bergerak menurut lawanmu).
15. Berpikirlah bahwa tangan dan kakimu adalah pedang.
16. Jika kamu meninggalkan rumah, berpikirlah bahwa kamu memiliki banyak lawan yang menanti. Tingkah lakumulah yang mengundang masalah bagi mereka.
17. Pemula harus menguasai postur dan cara berdiri, posisi tubuh yang alami untuk yang lebih ahli.
18. Berlatih kata adalah satu hal, terlibat dalam pertarungan sungguhan adalah hal lain.
19. Jangan lupa secara tepat memperagakan kelebihan dan kekurangan dari kekuatan, peregangan dan kontraksi dari tubuh, serta cepat lambatnya teknik.
20. Selalu berpikir dan berusahalah menemukan cara untuk hidup dengan aturan-aturan di atas setiap hari.